Showing posts with label Local Society. Show all posts
Showing posts with label Local Society. Show all posts

Thursday, February 11, 2010

Avatar di Karratha

Avatar yang saya maksud adalah film Avatar yang dirilis bulan Desember 2009, garapan sutradara James Cameron si-kreatif itu. Dua jempol untuk James Cameron yang sabar menunggu perkembangan teknologi 3D maju beberapa langkah ke depan hingga film tersebut sesuai imajinasinya. Khusus untuk pencitraan kaum Na’vi, dan kehidupannya, serta segala flora-fauna-nya sungguh bikin saya beberapa kali bilang “hebat imaji si James (James Cameron) teh…, beginilah nih when science meet art”.

Keistimewaan film Avatar pasti sudah banyak dibahas di berbagai media. Sementara tulisan saya disini hanya ingin berbagi cerita saja bahwa ternyata nonton film bioskop di Karratha itu tidak bisa dilakukan setiap hari seperti di Jakarta atau tempat lain. Tempat saya nonton ini memang tepatnya bukan bioskop tapi teater. Habis memang studio bioskop ga ada di sini, dulu katanya sempet ada tapi bangkrut, ga tahu kenapa.

Walkington Theatre namanya, salah satu tempat orang-orang sini mendapatkan hiburan, entah pertunjukkan drama, opera, tari kontemporer atau tradisional, kursus teater, atau sekedar tempat menghabiskan waktu di perpustakaan yang cukup luas nyaman. Film Avatar sendiri diputar karena sedang liburan sekolah yang berakhir di minggu ini, jadi ya beruntunglah saya ada tontonan disela kerjaan yang super numpuk.

Film diputar jam 7.30 malem, saya berangkat dari rumah jam 7.00, biar santai, saya pikir. Jarak teater-rumah kurang lebih 2 km. Tapi rupanya baru sampai di parkiran..., parkiran sudah penuh, ehm... kayaknya bioskop juga udah penuh. Muter sekali cari-cari parkiran kosong..., dan ternyata tidak ada, akhirnya dapet parkiran yang agak jauh dikit. Begitu masuk loby teater ternyata sepi-sepi aja.... rupanya orang-orang sudah masuk semua. Amannya saya udah beli tiket 1 minggu sebelumnya jadi tetep tenang... Di pintu masuk, yang dijaga ibu-ibu sudah berumur, saya tanya tempat duduk, trus dijawab ini open sitting, bebas... waduh... bener saja tempat yang tersisa hanya ada di barisan paling depan, paling kiri dan paling kanan.

Akhirnya saya duduk di barisan paling kiri, terus... tengak-tengok bawah (depan) dan belakang (atas) sambil gumam: “ternyata banyak juga orang di Karratha kalo dikumpulin hahahhahaha....”. Iya Karratha memang sepi, luasnya kira-kira 15.197 km2 atau kurang lebih setengah luas dari Jawa Tengah, tapi hanya dihuni oleh 11.728 orang, yang tersebar ke beberapa wilayah kecil (suburb). Bandingkan dengan Jakarta dengan luas 661,52 km2 yang dihuni oleh kurang lebih 7,5 juta.

Pikiran saya malah maen-maen dengan hitungan di atas dan ini; kursi teater ada 434, jadi sekitar 3,7% warga Karratha malem ini kumpul bersama, nonton Avatar bersama heheheheh..... Kebayang kalo yang 3,7% ini diambil dari jumlah penduduk Jakarta...., pasti bukan banyak lagi.... tapi uakehhhh tenan... Tapi segini juga bagi saya udah cukup rame..., cukup terhibur, cukup seneng, cukup antusias menunggu detik-detik pemutaran film. Maka sambil nunggu jam 7 tepat saya ngobrol dengan temen sebelah.... pake bahasa Indonesia...., karena dengan orang Indonesia.... Isi obrolan itu ya berkisar pada:

  1. Aneh ya yang nonton kok pada pake kaos aja... yang mba-mba pake kaos buntung..., sementara kita jaketan... hahahah... dari pada kedinginan, film Avatar kan 3 jam, biarin lah....
  2. Gila... orang Karratha kota ngumpul semua disini, pasti di rumah-nya pada kosong hahahahahha....., kurang hiburan sih...
  3. Kasian orang-orang sini kurang hiburan (padahal saya juga heheheheh....)
  4. Temen saya bilang...., mudah-mudahan ada yang cakep duduk di sebelahku hahahha.... hampir ada tapi gak jadi...

Kemudian di tengah-tengah obrolan dengan topik tersebut di atas..., tiba-tiba dalam waktu sepersekian detik di saat saya lengah... temen sebelah saya ini ngobrol sama salah satu penonton di depannya persis... trus saya coba dengerin ternyata dia ngomong bahasa Indonesia.... cilaka...., trus saya tanya ngomong apa dia? katanya: ”Selamat Malam”, hahaha.... berarti dari tadi....????

Ya sudah akhirnya kami ngobrol beberapa menit sambil menunggu film diputar... dia bilang 20 tahun lalu sering maen ke Indonesia, Sumatra, Bali, Sulawesi, dimana disela obrolan itu kedua anaknya menimpali obrolan dan melihat kami. Obrolan yang singkat tapi menyenangkan, ternyata ada yang mengenal kami, barudak Indonesia. Kenikmatan antusiasme nonton bertambah sudah dengan adanya obrolan tadi, saya jadi senyum dalam hati, mungkin dia dari tadi dengerin, tapi biarinlah... hahahhahaha...., film sudah dimulai. Semua diam.

Karratha, 6-2-10
Western Australia

Saturday, January 30, 2010

bukan konser musik, tapi pertemuan sahabat

Tadi malam di Bentara Budaya Kompas tampil seorang budayawan, pengelana, penggubah lagu, dan sekaligus pula seorang pencinta alam. Ia lahir di tatar Sunda. Beberapa lagu gubahannya sangat terkenal dan begitu merdu disenandungkan. Khususnya oleh orang-orang yang saat ini menginjak usia paruh baya mungkin bait demi bait dapat dilagukannya dengan mudah. Diantaranya Bunga Flamboyan, Melati Dari Jayagiri, Burung Camar dan Mars Unpad. Ia bilang penggubah, karena memang Ia menggubah dari catatan-catatan perjalanan berkelananya sepanjang hidup hingga menjadi lagu. “Pencipta hanya melekat pada Yang Maha Kuasa”, begitu selorohnya merendah.

Sudah lama saya mendengar namanya, sudah sering pula saya menyenandungkan lagu-lagunya, sudah sering pula saya mendengar cerita-ceritanya, namun baru tadi malam bisa beratap muka langsung, bersalaman yang unik, menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dengan khidmat dan menyenandungkan Lagu Syukur H. Mutahar. Sangat megah nan syahdu.

Bagi saya interaksi tersebut merupakan sebuah Oase di sebuah kota metropolis, walaupun Sang Pelagu menyampaikannya dengan selingan bercanda khas orang-orang dari tatar Sunda yang membuat suasana syahdu bergantian dengan kesegaran.

Malam itu Bentara Budaya seperti bukan di Jakarta, sinar yang redup dalam ruangan, hawa yang sejuk, formasi duduk berbentuk setengah lingkaran, penuh keakraban, penuh kehangatan. Apalagi saat Sang Pelagu bilang: “anggap saja di depan kita ada sebuah api unggun, dan kita melingkarinya”, suasana menjadi seperti di sebuah kaki gunung.

Lagu-lagunya bercerita tentang harapan, cinta dan teguran reflektif bagi siapapun yang mendengarnya.

Ketika kita berhadapan dengan permasalahan hidup yang begitu berat, lagunya menggambarkan untuk tetap tabah. Sinar bintang di langit memang tidak sampai rasa hangatnya menyentuh kulit, tapi sinarnya adalah harapan sambil menunggu matahari esok terbit.

Ketika pohon randu,menjadi tua,kulitnya mengelupas kering dan mati, tak perlu berkecil hati, karena benihnya telah dibawa angin ke angkasa dan dijatuhkannya di bumi, dan randu-randu kecil akan tetap tumbuh.

Tentang mencintai alam Ia bercerita tentang menumbuhkan pohon, merawatnya, menyiraminya, menyayanginya dan belajarlah tentang kesabaran. Karena pohon tidak tumbuh tergesa-gesa.

Tentang sebuah keterampilan Ia mencontohkan seorang prajurit, seorang ksatria yang terus berlatih, karena menurutnya tidak ada prajurit yang terlatih, tapi prajurit yang terus berlatih.

Tentang kebugaran Ia mengingatkan bahwa, tubuh adalah amanah (titipan) dari Yang Di Atas, maka selayaknya kita untuk memeliharanya..

Tentang patriotisme Ia mengajak untuk sungguh-sungguh mensyukuri apa yang telah kita peroleh, bersyukur lahir di negeri ini, bersyukur lahir dan menjadi warga negeri ini. Jaman kolonialisme dulu jika mau masuk kolam renang ada tulisan “Anjing dan Inlander dilarang masuk”. Dan rasanya kita sudah tidak bisa menemukan tulisan itu lagi, maka selayaknya kita bersyukur.

Tentang semangat, belajar dari Matahari, inilah syair-syairnya:

Mentari
Mentari menyala di sini
Di sini di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini di urat darahku
Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satupun yang sanggup menghalangiku
Bernyala di dalam hatik
Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap bernyala
Di sini di urat darahku

Banyak sekali yang jadi bahan renungan saya, tak semua bisa saya tuliskan. Mungkin juga ada yang salah, oleh sebab itu mohon maaf. Saya hanya ingin berbagi.

Sambil melagu, Sang Pelagu selalu menyelipkan dan memberikan cerita pengantar tentang lagu, tentang kondisi bangsa, tentang cerita di negeri Jepang, di sebuah taman di London, tentang orang tua-nya, tentang masa remajanya, tentang lagu-lagu Afrika, penyanyi Afrika Selatan dan dongeng-dongeng lain. Saya jadi teringat pula LF 28 tentang Meta4Change, cerita metaphore untuk pemberdayaan.

Demikian.

Twin Cities, Surga Pesepeda Seperti Saya


30 Oktober 2006, saya sampai di Minneapolis/St. Paul International Airport. Minneapolis adalah kota terbesar kedua setelah St. Paul di Minnesota-Amerika Serikat, oleh sebab itu keduanya disebut sebagai kota kembar, twin cities. Cukup melelahkan setelah perjalanan kurang lebih 30 jam dari Cengkareng, namun hal tersebut begitu saja terobati setelah melihat sebuah pemandangan gerombolan sepeda. Baru saja selesai mengambil bagasi, sudah terbengong-bengong, penuh rasa tidak percaya karena banyak orang yang me-nenteng sepeda gunung. Rupanya mereka adalah para karyawan. Kemudian saya ikuti sampai ke Metro Railway Station, sepeda naik juga dengan setia, dan tiba-tiba sepeda diangkat kemudian digantungin begitu saja di bike rack yang tersedia, ohhh….., begitu toh caranya. Woow…., keren banget, si biker dengan asyiknya duduk tanpa harus repot menggandeng sepeda.

Itu sekelumit kesan pertama. Saat itu saya sedang mengikuti sebuah AEE (Association for Experiential Education) Annual International Conference. Kantor saya, adalah salah satu anggotanya sejak tahun 1995, jadi disini merupakan tugas kantor. Tapi Sepeda….. Sepeda….. Sepeda lagi…, yang juga menyedot sebagian energi dan perhatian saya, benar-benar multi-orgasm merasakan surga biker ini.

Saya memang sudah berniat akan naik sepeda pulang pergi ke tempat konferensi. Dari Jakarta sudah disiapkan helm (walaupun akhirnya diputuskan tidak dibawa karena tas tidak cukup), bike to work tag, dan informasi tentang sepeda di negeri ini sejak jauh hari. Tempat menginap memang cukup jauh dari tempat konferensi dan aturan tentang berkendaraan cukup berbeda dengan Indonesia, jadi butuh waktu satu hari untuk keliling, melihat, mengamati hingga naik turun bis dan kereta sekedar membiasakan diri. Hingga jatuh hari yang ditunggu-tunggu, akhirnya meluncurlah kereta angin pinjaman dari seorang kawan dengan lancar, wusshhh….. Hampir setiap hari suhu udara berada dikisaran -6ºC sampai dengan 6ºC, namun saya menikmatinya dengan penuh gairah. Minnesota memang sangat dingin di akhir tahun, namun tetap hangat di atas sepeda.

Di Minnesota kebijakan transportasi sepeda mendapat kehormatan dan penghargaan yang cukup tinggi. bike lane, bike road, bike path/trail, bike shoulders, bike rack, bike sign, disediakan begitu istimewa. Pejalan kaki adalah nomor satu dalam lalu lintas, dan pe-sepeda adalah nomor dua. Namun dibandingkan dengan kendaraan lain, sepeda adalah kelas wahid. Tidak mengherankan karena berdasarkan perhitungan Departemen Transportasi Minnesota tahun lalu, sejumlah 63% penduduk dewasa-nya adalah pesepeda yang aktif. Selain itu juga berdasarkan Federal Guidance Transportation Departement, TEA-21, Februari 2000, disebutkan bahwa jalur sepeda dan pedestrian harus dibangun dalam setiap proyek pembangunan baru dan proyek rekonstruksi.

Bike lane disediakan antara bahu jalan dan jalan utama, pada kedua sisinya ditandai dengan garis putih tebal. Memang tidak setiap jalanan memiliki bike lane, tapi selalu ada bike shoulder yang bisa digunakan berdampingan dengan jalur pejalan kaki. Jika bike lane akan berakhir pasti ada tandanya berupa tulisan seperti ini: Bike Lane End”, maka si pesepeda akan pindah ke bike shoulder. Demikian pula jika bike lane di depan kita tersedia, maka akan ada tulisan berikut “Bike Lane Start”. Pada beberapa taman kota disediakan jalur sepeda khusus, dipisahkan dari para jalur pejalan kaki. Ada jalur off road dan on road, jadi bagi sepeda gunung maka jalur off road adalah jatahnya, sementara bagi pesepeda race, maka jalur on road adalah jatahnya.

Bike rack disediakan di dalam kereta listrik, posisinya nampak seperti pegangan (handle) pintu, sepeda tinggal diangkat roda depannya dan digantunkan. Bike rack juga bisa ditemui di bis, ditempatkan di depan mobil, tepatnya di-bumper, dengan kapasitas sampai dengan 2 buah sepeda. Dan tentunya bumper tersebut sudah mendapat rak tambahan khusus. Posisinya sepeda saat di rak tersebut berdiri dengan roda depan dijepit yang berfungsi sebagai kunci, jadi tidak membutuhkan waktu panjang, sungguh sangat praktis dan kokoh. Kemudian hampir di setiap tempat-tempat umum disediakan tempat parkir, modelnya sederhana, nampak seperti pagar biasa, tinggal memasukan roda depan atau belakang, maka sepeda sudah terparkir dengan baik. Namun ada juga yang bentuk yang berbeda, lebih mirip sepeda yang ditata di depan taman atau di pedestrian. Di tempat parkir ini biasanya orang menggunakan kunci, atau terparkir begitu saja. Ketika saya tanyakan apakah aman dengan tanpa kunci kepada para biker, jawabannya adalah “mungkin saja dicuri, tapi jarang sekali”.

Oh ya…, pada hari-hari tertentu khususnya musim dingin, pada beberapa tempat perhentian atau stasiun sering disediakan minuman panas dan kue-kue gratis khusus bagi para pesepeda dan pengguna kendaraan umum lainnya. Lagi-lagi pesepeda dimanjakan dengan fasilitas pemerintah. Di kita???

Pesepeda di negeri ini memiliki banyak wadah atau organisasi, diantaranya adalah Bike Walk Organization dan The State Bicycle Advisory Committee, yang memiliki program-program dengan tujuan hampir sama, yaitu memberikan informasi mengenai sehat dan aman-nya bersepeda. Bersama-sama pemerintah membangun fasilitas umum, khususnya untuk sepeda. Program Kampanye yang sudah berjalan adalah “Share The Road”, kampanye ini mengajak seluruh anggota masyarakat untuk berbagi jalan, saling menghormati pengguna jalan lainnya dan saling menjaga keselamatan masing-masing. Hampir di setiap sudut jalan terpasang tulisan “Share The Road”. Selain itu ada juga program The Safe Route to Schoool, Encouraging Bike Commuting and Walking dan The Minnesota Scenic Bikeways System.

Itulah sedikit pengalaman, mungkin tulisan sejenis pernah diterbitkan di sini, tapi mudah-mudahan menjadi sekedar pelengkap dan sekedar pelipur kangen saya terhadap biker di Indonesia.

Perlu Otak Kanan Untuk Menikmati Karratha


Malam ini Karratha sejuk, suhu di luar, ada di angka 27.6°C dengan kecepatan angin 37km/jam, dan menurut ramalan cuaca suhu akan turun hingga 25°C di malam hari.

Tidak seperti biasanya, angin malam ini sejuk. Sementara di malam-malam sebelumnya, angin saja panas, apalagi mataharinya, bikin megap-megap. Terbayang teman-teman lain yang menghabiskan bulan puasa di sini beberapa bulan lalu, huh... pasti perlu kesabaran yang lebih dari biasanya.

Oh ya dimanakah Karratha itu? Mungkin tidak banyak yang tahu. Sebagian warga di Australia, kalo disebutkan Karratha umumnya bilang: “kamu pasti meleleh disana”, hahahaha…. “. Nah Karratha sendiri ada di utara Perth atau di barat daya Darwin. Perlu waktu 2 jam perjalanan lewat udara dari Perth atau 22 jam jalan darat.

Orang-orang bilang, tidak banyak hal yang bisa dilakukan disini, dan rupanya setelah saya perhatikan memang begitu adanya. Pendapat ini benar tentunya, jika berharap bahwa Karratha sama dengan kota-kota lain di Australia misalnya Perth, yang gemerlap di malam hari, hiruk pikuk penuh dengan orang yang berwisata atau berbelanja.

Tempat saya tinggal kurang lebih 5 menit berkendara dari kota. Kota? Ya Kota, tapi jangan bayangkan kota besar, hanya butuh kurang dari 5 menit untuk melewati panjangnya barisan kota dengan berjalan kaki. Tapi walaupun kecil cukup lengkap, ada 1 supermarket, ada 2 bank, 1 kantor polisi, 1 kantor pos, 1 rumah sakit, 1 kantor pengadilan, 1 kolam renang umum, 1 bandara, 1 tempat sewa DVD/VCD, beberapa hotel biasa tapi harganya luar biasa mahal, 1 komplek sekolah, 1 college yang mahasiswanya mungkin kurang dari 10, 1 tourist center, apalagi yah? Pokoknya jumlahnya kalau tidak 1 ya 2.

Bicara rumah, nah ini mestinya agak mending, rumah yang saya tinggali ini menghadap Nickol Bay, dimana ujung dari teluk ini berbaring dari utara ke selatan, sebuah tanjung yaitu Burrup Peninsula. Menghadap teluk? mestinya indah dong, tapi tidak. Karena tinggi rumah kami hampir sejajar dengan permukaan laut, mungkin hanya beda 1 meter mdpl, jadi ya biru-nya teluk itu tidak kelihatan, karena tertutup oleh ilalang atau belukar yang tingginya kurang lebih 1 meter, praktis yang kelihatan cuma Burrup Peninsula yang berbaring hitam di malam hari, atau merah karena bijih besi di siang hari. Butuh tempat yang lebih tinggi beberapa meter untuk menikmati indahnya Karratha.

Jadi, kalau ingin menikmati Karratha, ya memang perlu cara lain, ga bisa dengan cara biasa. Perlu sedikit sentuhan otak kanan. Orang-orang sini, punya hiburan yang menurut teman-teman Indonesia gak ada menarik-menariknya. Namanya Staircase to The Moon, kira-kira begini deskripsinya (menurut warga sini tentunya): ”is an illusion created by full moon rising over mudflat on a low tide. The effect is breathtaking and create illusion of a staircase leading to the moon”. Saya langsung senyum-senyum sendiri, inilah cara lain untuk menikmati Karratha. Menurut teman, pada tanggal-tanggal tertentu, orang-orang berduyun-duyun, bahkan ada yang pake bis segala, semua menuju ke Hearson’s Cove atau Cossak, duduk-duduk dipinggir pantai sambil minum, trus ngeliatin bulan, gila kali.. hahahhah…..

Saya sendiri malam ini duduk di depan rumah menghadap Nickol Bay dan Burrup Peninsula. Segelas teh panas menemani. Perut sudah penuh dengan steak buatan temen. Tidak pernah sebelumnya duduk di situ, karena anginnya panas. Tapi malam ini tidak.

Pandangan saya jatuh di Burrup Peninsula yang terbaring nyenyak, ditiup angin semilir dipayungi rembulan. Pandangan ini sesekali terganggu oleh lalu lintas pesawat yang mendarat di selatan Nickol Bay. Tapi makin malam, pesawatpun sepi. Terbayang dulu di sana, para penduruk lokal (baca: Aborigin) melukis batu-batu itu, mungkin sambil bersenda gurau diterpa angin dan rembulan. Lebih dari 700 situs arkeologis tersimpan di sana, dan lebih dari 10.000 lukisan batu (petroglyphs), menurut Heritage Council of Western Australia pada Juli 2007. Sebelum kedatangan orang-orang dari Eropa, diduga memang tanjung ini telah dihuni penduduk lokal sejak 30.000 tahun lalu.

Terbayang para penduduk lokal, terbayang pula Henry Thomas Wood Burrup, pria kelahiran tahun 1861 di Longford, Gloucester, Inggris. Seorang anak muda yang mengembara ke Australia. Dia juga seorang akuntan muda brilian dari Union Bank yang dipindah ke Roebourne dari Perth. Ia muda dan populer namun terbunuh secara misterius di kantornya sendiri, Union Bank Roebourne, tidak jauh dari Karratha. Dan nama Burrup Peninsula, diambil dari nama sang akuntan tersebut, sebagai penghargaan atas dedikasinya dari pemerintah setempat.

Tulisan ini adalah cara saya menikmati Karratha, karena tidak mau saya menikmati Staircase to The Moon seperti warga sini, apalagi ketahuan temen-temen Indonesia, hahahaha....

21:06, 26 Januari 2010
Karratha, Western Australia

sumber:
www.pilbaracoast.com
www.roebournebankmurders.com
www.weathterzone.com.au

note:
tulisan ini untuk Almeera anakku, yang saat ini lagi demam, istriku yang lagi menemani Almeera, kuat!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails